Sekilas kisah tentang Al Imam Shalih Al Vawzan
KEUTAMAAN Al-'Allamah Asy-Syaikh Prof. DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah wara'ah.
________________________________
Dikisahkan dari Al-Ustadz Abdul Malik Al-Madury..
(Supir Pribadi Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan) hafizhahullah, beliau berkata (secara makna) :
"Adalah Al-'Allamah Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan -hafizhahullahu wara'ah- ketika beliau sebelum masuk Ma'had Ilmiy Buraidah, beliau berjalan dari rumah beliau menuju madrasahnya, yakni dari "DESA KE DESA" tanpa alas kaki dengan jarak 25 km, sehingga dalam sehari beliau menempuh perjalanan 50 km (pergi-pulang).
Aduhai jika kalian mengetahui cuaca di Saudi Arabia..
Beliau -hafizhahullah- kini berumur 84 tahun (lahir 1933 M), dan teman-teman seperjuangan beliau telah wafat semua -rahimahumullah-. Ini mungkin keberkahan yang Allah Ta'ala berikan tatkala beliau dahulunya berusaha dengan gigih menuntut ilmu syar'i. Allah subhanahu wa ta'ala memberikan umur yang panjang, amal shalih, dan ilmu yang sangat kokoh.
Beliau -hamahullahu min kulli su' wa makruhaat- benci kepada bid'ah dan ahlinya, adalah beliau menolak untuk mengisi dauroh ilmiyyah jika ada Syaikh Mubtadi' lain ikut mengisi di dauroh tersebut.
Sampai-sampai acara TV rutinan beliau, sebagaimana sebelum acara, ada qori' Al-Qur'an yang melantunkan beberapa ayat suci sebagai muqoddimah acara tersebut, namun Asy-Syaikh Al-Fauzan tahu bahwa qori' tersebut bermanhaj tidak bagus, maka Asy-Syaikh meminta langsung ke direktur stasiun TV tersebut untuk mengganti qori' lain yang bermanhaj salaf, maka qori' tersebut pun diganti.
Menghadiri majelis beliau seakan-akan seperti kami berada di majelis surga yang telah disifatkan oleh Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- walau surga belum kita raih.
Istri ana (penulis) -hafizhahallah- ketika kami berdua mukim di Riyadh sangatlah mencintai duduk di majelis beliau, padahal dia sakit ketika itu, namun ia selalu bertutur kepada saya : "Tolong zaujy...biarkan aku ikut bersamamu, duduk di majelis Asy-Syaikh, sungguh keadaanku membaik, hatiku tentram dan damai, walau sekedar duduk dan tak paham apa yang diucapkan Asy-Syaikh". Sampai-sampai ketika kita sibuk mempersiapkan diri untuk balik ke Indonesia, dia berkata : "Aku ingin duduk di majelis Asy-Syaikh sampai hari terakhir kita di Riyadh".
"Muwahhidul-Ummah (PENYATU UMAT)" itulah julukan beliau di lisan-lisan awwam, penuntut ilmu, sampai ke Istana Kerajaan Saudi Arabia..Semoga Allah Ta'ala selalu menjaga dan merahmatinya".
(Di-edit oleh Al-Akh Abu Umar Andri Maadsa)
Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum.
________________________________
Dikisahkan dari Al-Ustadz Abdul Malik Al-Madury..
(Supir Pribadi Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan) hafizhahullah, beliau berkata (secara makna) :
"Adalah Al-'Allamah Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan -hafizhahullahu wara'ah- ketika beliau sebelum masuk Ma'had Ilmiy Buraidah, beliau berjalan dari rumah beliau menuju madrasahnya, yakni dari "DESA KE DESA" tanpa alas kaki dengan jarak 25 km, sehingga dalam sehari beliau menempuh perjalanan 50 km (pergi-pulang).
Aduhai jika kalian mengetahui cuaca di Saudi Arabia..
Beliau -hafizhahullah- kini berumur 84 tahun (lahir 1933 M), dan teman-teman seperjuangan beliau telah wafat semua -rahimahumullah-. Ini mungkin keberkahan yang Allah Ta'ala berikan tatkala beliau dahulunya berusaha dengan gigih menuntut ilmu syar'i. Allah subhanahu wa ta'ala memberikan umur yang panjang, amal shalih, dan ilmu yang sangat kokoh.
Beliau -hamahullahu min kulli su' wa makruhaat- benci kepada bid'ah dan ahlinya, adalah beliau menolak untuk mengisi dauroh ilmiyyah jika ada Syaikh Mubtadi' lain ikut mengisi di dauroh tersebut.
Sampai-sampai acara TV rutinan beliau, sebagaimana sebelum acara, ada qori' Al-Qur'an yang melantunkan beberapa ayat suci sebagai muqoddimah acara tersebut, namun Asy-Syaikh Al-Fauzan tahu bahwa qori' tersebut bermanhaj tidak bagus, maka Asy-Syaikh meminta langsung ke direktur stasiun TV tersebut untuk mengganti qori' lain yang bermanhaj salaf, maka qori' tersebut pun diganti.
Menghadiri majelis beliau seakan-akan seperti kami berada di majelis surga yang telah disifatkan oleh Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- walau surga belum kita raih.
Istri ana (penulis) -hafizhahallah- ketika kami berdua mukim di Riyadh sangatlah mencintai duduk di majelis beliau, padahal dia sakit ketika itu, namun ia selalu bertutur kepada saya : "Tolong zaujy...biarkan aku ikut bersamamu, duduk di majelis Asy-Syaikh, sungguh keadaanku membaik, hatiku tentram dan damai, walau sekedar duduk dan tak paham apa yang diucapkan Asy-Syaikh". Sampai-sampai ketika kita sibuk mempersiapkan diri untuk balik ke Indonesia, dia berkata : "Aku ingin duduk di majelis Asy-Syaikh sampai hari terakhir kita di Riyadh".
"Muwahhidul-Ummah (PENYATU UMAT)" itulah julukan beliau di lisan-lisan awwam, penuntut ilmu, sampai ke Istana Kerajaan Saudi Arabia..Semoga Allah Ta'ala selalu menjaga dan merahmatinya".
(Di-edit oleh Al-Akh Abu Umar Andri Maadsa)
Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum.
Comments
Post a Comment